Palopo - Ikatan Dokter Anak Indonesia menggelar workshop diagnosis dan tatalaksana bayi berat lahir rendah di Hotel Value (Jumat, 26/4/19). workshop ini dihadiri perawat dan bidan dari berbagai rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kota Palopo.  dr. A. Dwi Bahagia Febriani, Ph.D., Sp.A (K) selaku ketua departemen ilmu kesehatan anak Unhas yang menjadi pembicara pada workshop ini mengatakan berat badan bayi dikatakan kurang atau rendah ketika memiliki berat kurang dari 2,5 kilogram. Hal ini sering terjadi pada bayi yang lahir prematur atau sebelum memasuki usia kehamilan 37 minggu. Tanda khusus bayi Anda memiliki berat badan lahir rendah adalah terlihat kurus, memiliki sedikit lemak tubuh, dan ukuran kepala yang besar dan tidak proporsional.  "Ketika anda memiliki anak kembar, umumnya anak kembar akan terlahir lebih cepat dari waktu normal, dan janin tidak memiliki banyak ruang untuk tumbuh dan berkembang di dalam rahim. Selain, berat badan bayi yang rendah bisa disebabkan oleh gangguan pada plasenta yang diakibatkan preeklamsia atau tekanan darah tinggi saat mengandung" ucapnya.

Sementara itu, Ketua Perinasia cabang Palopo Dr. dr. Ema Alasiry, Sp.A (K) menyebutkan diagnosis berat badan lahir rendah (BBLR) dapat diperkirakan oleh dokter kandungansejak masa kehamilan. Saat pemeriksaan kehamilan rutin, dokter akan mengamati perkembangan ukuran dan berat badan janin dalam rahim, dan membandingkannya dengan usia kehamilan. Metode pemeriksaan yang umumnya dilakukan adalah USG kehamilan. Diagnosis BBLR dapat ditetapkan pada saat bayi lahir, jika berat badannya kurang dari 2,5 kg. Ema juga menyebutkan Hampir seluruh bayi BBLR memerlukan perawatan di rumah sakit setelah lahir. Penanganan dapat dilakukan sesuai dengan usia kehamilan, kondisi kesehatan, serta respons bayi terhadap pengobatan atau prosedur tertentu.

Untuk bayi BBLR dengan komplikasi tertentu, seperti paru-paru yang belum matang atau masalah pada usus, maka bayi tersebut perlu dirawat di ruang perawatan intensif neonatal (NICU). Di ruang ini, petugas medis akan membaringkan bayi di tempat tidur yang suhunya telah diatur, serta memberikan susu dengan teknik dan alat khusus.  "Bayi baru diperbolehkan pulang setelah komplikasi dapat diatasi dan ibunya dapat memberikan ASI secara normal" tuturnya. Untuk bayi BBLR, dokter sangat menganjurkan pemberian ASI, karena dapat mendukung pertumbuhan dan kenaikan berat badan. Jika ibunya tidak bisa memberikan ASI, bayi dapat diberikan ASI dari donor.  Turut hadir dalam workshop ini anggota perinasia cab. Palopo dr. Besse Sharmila, M.Kes., Sp. A (K) dan ketua PPNI Palopo NS. Normawati Wahid, S.Kep., M.Kep. (Ichzan_Diskominfo Palopo)