Teknologi digital bukan hal baru, tetapi akibat dari perkembangan yang pesat digitalisasi membuat berbagai hal yang selalu baru dan memerlukan pandangan dan wawasan masyarakat untuk selalu waspada dan kritis.

Era digital sekarang ini sangat multidimensional, menjadi warga di dunia digital yang tergolong baru ini, kita perlu tahu aturan main dan kode etiknya, agar menjadi warga yang bertanggung jawab. Dengan menjadi pengguna media digital, kita tidak cukup hanya memiliki IQ (kecerdasan Fikiran/akal) dan EQ (kecerdasan emosi), tetapi sekarang juga perlu Digital Quotient (DQ) atau kecerdasan digital.

Dilansir dari berbagai sumber, ada beberapa poin penting untuk cerdas secara digital, yang dijelaskan berikut ini antara lain bisa memilah identitas yang boleh dishare dan tidak. Tujuannya untuk menjaga keamanan diri dan privasi, agar identitas kita tidak disalah gunakan oleh pihak lain, karena segala jejak digital akan tersimpan selama-lamanya.

Mengelolah dan cerdas mendeteksi konten berisiko (cyberbullying, grooming, radikalisasi, pornografi, penipuan). Laporkan atau blokir akun yang mengancam keselamatan pengguna. Misalnya ada yang cloning WA (Whatsapp) kita.

Melansir The Star,  mengatakan pembajakan bahwa akun Whatsapp biasanya sukses jika korban membocorkan enam digit kode verifikasi. Kode biasanya akan diterima pengguna ketika ada upaya untuk mengubah nomor telepon yang terkait dengan akun mereka, dikirimkan via SMS.

Salah satu modusnya, scammer menghubungi calon korban yang menyamar sebagai individu atau usaha yang mengklaim telah salah memasukkan nomor telepon korban saat mencoba menyelesaikan transaksi online. Akibatnya kode otorisasi transaksi itu telah telah dikirim ke telepon korban dan memohon untuk mengirim kode tersebut.

Kemudian bila kita menemukan informasi yang mencurigakan baiknya tidak mengeshare -nya, informasi hoaks, langsung kirimkan ke laman  http://aduankonten.id/ .untuk kemudian ditindaklanjuti oleh yang berwenang.

Untuk melindungi akun dan gawai dari ancaman siber, sebaiknya rutin mengganti password, memasang antivirus,dan sebagainya. Bisa berempati dan berhubungan baik secara online. Menjadi netizen yang sopan,( tidak cyberbullying ). Karena jejak digital jangan sampai merugikan masa depan.

Cerdas menyikapi digitalisasi era kekinian, netizen mesti faham cara mendapatkan informasi, misalnya dengan menggunakan mesin pencari, membaca artikel/berita/jurnal, dan bisa mengkritisinya (hoax atau fakta). Dengan selalu mengingat saring dulu sebelum sharing informasi. (red.usni_diskominfopalopo).