Liputan khusus : Ayu Anastasya, Andi Wahyuni, Risdayana dan Vovi ( Mahasiswa PDK Uncokro-Palopo) 

 

Palopo – Bagi anda yang terbiasa melintas di jalan trans Sulawesi tepatnya di tapal batas Kota Palopo dan Kabupaten Luwu pada bagian utara, maka pemandangan deretan lapak penjual kue tradisional “ Torri “ tentu tidak asing bagi anda. Tapi taukah anda dinamika yang terjadi disepanjang jalan di kawasan yang biasa disebut jembatan miring tersebut ?. Rupanya deretan lapak penjual  tersebut memiliki cerita tersendiri. Dari penelusuran yang dilakukan oleh kru Diskominfo Palopo dan mahasiswa PDK Universitas Cokroaminoto Palopo, para pemilik lapak tersebut memulai usahanya bahkan saat matahari belum terbit. Mama Rahma salah satunya. Dirinya mengaku mulai berjualan selepas shalat subuh sampai dini hari menjelang, lain halnya dengan Nurmala sari dan Harmiyanti yang justru memilih membuka lapak mereka pada pukul 7 pagi.  Untuk memudahkan dalam melayani para pembeli mereka harus membagi shift berjualan. Maklum kebanyakan pembeli adalah mereka yang melintasi kawasan tersebut, mulai dari pengendara motor roda dua sampai bus penumpang antar kota antar provinsi.   

“ Kue Torri” khas jembatan miring memang sudah beberapa tahun ini telah menarik minat masyarakat dan pengguna jalan raya. Menurut penuturan pelapak setempat, penamaan kue torri berasal dari proses pembuatannya yang menggunakan pisau dengan memotong memanjang cetakan adonan kue torri sebelum akhirnya dimasukkan kedalam penggorengan. Dengan bahan dasar  seperti tepung beras, gula merah, vanili, biji wijen dan minyak goreng, kue torri mampu menggoyang lidah penikmatnya. 

Meski baru beroperasi dalam empat tahun terakhir, namun bisnis kue torri telah mampu membuka mata pencarian tambahan bagi warga setempat. Kepada palopokota.go.id mama Rahma mengaku dengan modal Rp.500 ribuan serta peralatan seadanya, dia memberanikan diri membuka bisnis manisan tersebut. Menurutnya dengan modal itu dia mampu memgemas sebanyak 60 pack kue torri yang dijual dengan kisaran harga Rp 15 sampai 18 ribu per pack. Menariknya mereka berhasil meraup omzet per hari bisa mencapai Rp.200 ribuan kalau pembeli lagi ramai, tapi jika pas sepi terkadang hanya meraih Rp.100 ribu atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun begitu mama Rahma menceritakan dirinya dan sejumlah penjual kue torri dapat “ panen “ jika pada waktu weekend . Hal senada diutarakan oleh Nurmala Sari yang mengaku bahwa pembeli akan ramai saat akhir pekan.  “ Tapi kami bersyukur karena jika bulan Ramadhan, kami kebanjiran order , tapi jika musim buah-buahan tiba, omset kami sedikit menurun“ urai ibu empat orang anak tersebut.   Mama Rahmah yang cukup ramah tersebut mengaku bahwa kue Torri asal jembatan miring bukan hanya dinikmati oleh masyarakat Palopo, namun juga sudah melanglang buana ke sejumlah daerah di pulau Sulawesi, khususnya wilayah Sulawesi Tenggara.  

Meskipun dari hari ke hari kue torri makin diminati serta pelapak di kawasan itu pun sudah mencapai 50-an lapak, namun bukan berarti mereka tidak terjerat dengan permasalahan. Mama Rahma yang cukup ramah itu menuturkan kekhawatirannya akan eksistensi bisnis tersebut jika tidak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.  Ia mencontohkan bahwa masa kadaluarsa kue torri hanya mampu bertahan dalam waktu sepekan. Ia berharap ada modifikasi dan upaya yang dapat membantu masa kadaluarsa kue torri sehingga dapat dibawa dan dinikamti dalam waktu yang lama. “ Selama ini kami menggunakan kemasan sederhana, sehingga ketahanan kue sangat terbatas, semoga kedepannya akan ada bantuan pola pengemasan yang lebih baik “ ujarnya sambil berharap ada uluran bantuan permodalan yang mudah dan terjangkau  terhadap usaha yang mereka geluti.  Istri pengemudi truk pengangkut gas elpiji tersebut juga menuturtkan pentingnya pelatihan dan pembinaan berkelanjutan bagi mereka yang berdagang kue torri, sebab menurutnya hal itu akan makin menunjang kualitas dan kekhasan kue torri buatannya.

Satu hal yang juga menjadi pemikiran mereka adalah lokasi berjualan.  Berada di tepi jalan yang ramai dan cukup padat , membuat mereka dihantui pikiran jika sewaktu waktu ada pelebaran jalan. “ jika ada pelebaran jalan, kami mau jualan dimana lagi, padahal sasaran utama pelanggan kami adalah pengguna jalan raya “ ujarnya sedikit prihatin. Dalam hal pemasaran, mama Rahma maupun Nurmala sari dan pelapak lainnya selama ini hanya bertumpu pada pola pemasaran secara manual dengan menjajakan kue torri bersama dengan ragam kue tradisional lainnya seperti beppa gambung , bagea,  kacang sembunyi, kacipo, jipang, roti bandong dan biskuit kacang di lapak mereka. Ketika ditanyakan apakah mereka tidak menjual melalui media online? Nurmala sari yang tampak lebih muda dari mama Rahma sama sekali tidak tertarik menjual kue torri nya di medsos.  Beda halnya dengan mama Rahma yang meskipun sudah beranjak menua namun memiliki keinginan untuk menjajakan kue khas nya di medsos, dengan syarat mereka diberi bimbingan. Dia berharap ada dukungan dari pihak tertentu untuk membantu mengatasi sejumlah permasalahan dan rasa kekhawatiran yang mereka hadapi sehingga keberlangusngan usahanya tetap terjaga.  Yang tak kalah pentingnya adalah menyangkut perijinan.  

Berkaitan dengan sejumlah masalah yang mereka hadapi, Kadis perindustrian Kota Palopo Akkaseng ketika ditemui tim liputan Kominfo dan mahasiswa PDK Uncokro mengaku bahwasanya pihaknya telah merumuskan sejumlah solusi atas permasalahan tersebut. Dalam hal permodalan, pihaknya telah merancang forum untuk mempertemukan pihak perbankkan dengan para pedagang kue torri, dengan harapan mereka dapat mengakses bantuan permodalan dari perbankkan yang mudah dan terjangkau.  Soal pemasaran, Akkaseng juga menuturkan perlunya pembangunan sentra penjulan kuliner khas daerah dengan menempatkan mereka pada lokasi yang strategis. Pihaknya juga sementara mencari peluang agar produksi kue torri dapat tembus dan terpajang pada etalase swalayan yang ada di daerah ini termasuk melakukan upaya pendampingan dan pelatihan berkesinambungan kepada para pedagang untuk meningkatkan kualitas produksi mereka. Namun Akkaseng berharap agar pedagang tidak hanya fokus pada satu jenis kue saja, melainkan dapat beragam. Sedangkan terkait dengan pengemasan, pihaknya juga mengaku masih memiliki keterbatasan dengan alasan sampai saat ini di kantor yang dipimpinnya belum memiliki alat yang lebih modern dalam mendukung proses pengemasan yang lebih mantap.

Akhirnya semoga dengan segala keterbatasan, bisnis kue torri dapat tetap eksis dan menorehkan catatan dan sekaligus pengalaman bahwa kue torri mampu mengangkat harkat dan derajat para pelaku usahanya serta mampu menorehkan secercah harapan bagi mereka yang rela menahan kantuknya menyajikan kue torri demi mereka yang tergiur akan kue torri khas jembatan miring-Palopo.( red_Herawan_Diskominfo Palopo )