Palopo- Bertempat di auditorium Saokotae, senin (29/04/2019) , Lembaga Sensor Film ( LSF ) Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kota Palopo menggelar sosialisasi budaya sensor mandiri.  Acara yang mengusung tema " Masyarakat sensor mandiri, wujud kepribadian bangsa" tersebut menghadirkan Syamsul Lussa dari LSF yang dalam paparannya menegaskan bahwa kegiatan sensor yang dilaksanakan pihaknya melibatkan sejumlah unsure agama dan lembaga publik dan dilakukan melalui pleno sehingga pelaksanaan sensor dapat memenuhi klasifikasi yang layak tayang.

Dirinya menegaskan bahwa komitmen LSF dalam kegiatan sensor dibuktikan dengan melakukan pelaksanaan sensor film sebanyak 400 sampai 500 film per hari disensor oleh tim. “ Meskipun film sudah disensor, namun pendekatan dan pendampingan orang tua membimbing anak dalam menonton “ ujarnya. Dirinya menegaskan bahwa semua film termasuk produksi lokal harus melalui pola sensor.  

Pada kesempatan yang sama, Kabid Ekonomi Kreativ Dinas Pariwisata Palopo, Ridwan mengatakan bahwa salah satu upaya mencounter  dampak film terhadap keluarga adalah melalui “ diet Televisi “ .   Sementara itu, asisten I Setda Palopo H.Burhan Nurdin, M.Si yang membuka resmi acara sosialisasi tersebut berharap agar film Indonesia harus mampu mencerminkan jati diri bangsa Indonesia.   “ Film sebagai media komunikasi massa dibuat dengan tujuan menyampaikan pesan-pesan moral tertentu kepada masyarakat. Film yang ditayangkan khususnya di seluruh wilayah Indonesia, haruslah sesuai dengan arah dan tujuan perfilman Indonesia sebagaimana tertuang dalam undang-undang perfilman inonesia, yaitu pelestarian dan pengemabangan nilai budaya, pembangunan watak dan kepribadian bangsa” ucapnya. ( Nunu Purwati_Diskominfo Palopo )