Palopo ada di masjid jami dan masjid ada di Palopo. Begitulah kira-kira menggambarkan sekilas Kota Palopo. Masjid Jami` sebagai salah satu simbol dan pusat kota telah banyak menginspirasi masyarakat dan peradaban Kota Palopo. Di masjid yang berdiri pada tahun 1604 Masehi tersebut, bukan saja melahirkan semangat dan tokoh agama, namun sejumlah tradisi juga muncul. Satu diantaranya adalah tradisi tolak bala. Tradisi dengan metode perpaduan doa dan dzikir ini biasa dilakukan di pelataran / halaman masjid jami`.  Menurut Abdul Watib Al-Masqajhi, salah satu tokoh di masjid Jami` yang merupakan warga keturunan Arab bahwa pelaksanaan ritual tolak bala` di masjid yang terletak di kelurahan batupasi Kecamatan Wara utara ini sudah dilakukan pada masa awal berdirinya masjid jami`.

Biasanya tradisi tersebut dilakukan setiap malam jumat dengan membaca kitab Barazanji dan dilakukan secara berjamaah.  Namun sekarang kata kakek yang berjanggot putih tersebut, tradisi barazanji dan tolak bala` itu lambat laun waktunya berpindah dari tadinya malam jumat kemudian dilaksanakan pada jumat pagi. “ dulu, pokoknya kalau jumat pagi ramai sekali orang datang untuk dibacakan doa tolak bala` “ tuturnya dengan dialek khasnya.  Biasanya masyarakat yang datang untuk dibacakan tolak bala` sudah berdatangan selepas shalat subuh, dan tak jarang diantara mereka menunaikan shalat subuh kemudian dilanjutkan pembacaan tolak bala`. Pemuka agama yang bertugas membaca doa tolak bala`di masjid Jami` jumlahnya lebih dari satu mengingat antrian orang yang akan didoakan cukup banyak.  Ketika ditanya, apa saja hajat dari orang-orang yang datang untuk didoakan tersebut, ustad watif begitu ia sering disapa menuturkan bahwa beragam permintaan yang diajukan, diantaranya agar mereka enteng jodoh, bermohon agar lekas sembuh dari penyakit yang dideritanya, untuk terhindar dari seringnya mengalami mimpi buruk, agar usaha yang dijalani dapat membuahkan hasil yang menguntungkan dan lain sebagainya.

Menariknya kata Abdul Watib, bahwa orang-orang yang datang dibacakan doa tola` bala` bukan saja berasal dari Kota Palopo saja, melainkan ada yang berasal dari luar Kota Palopo, seperti Walenrang, Lamasi, bahkan dari Kabupaten Bone dan Soppeng juga sering berkunjung ke masjid jami` meski hanya sekedar untuk didoakan. Selain itu, pengunjung yantg datang pun beragam profesi, ada pedagang, nelayan, petani, dan bahkan pejabat.   

Mengenai imbalan yang diberikan kepada pembaca doa tolak bala`, ustal watif mengatakan selama ini pemuka agama tidak mematok biaya sama sekali, namun terkadang warga yang datang untuk didoakan membawa makanan tradisional seperti sokko` ( penganan khas Tana Luwu yang terbuat dari beras ketan ), kue Barongko termasuk membawa berbagai jenis buah seperti pisang dan kelapa. Selain itu, diantara para pengunjung juga terkadang memberi uang tunai yang jumlahnya bervariasi.

Meski tradisi tolak bala` masih berlangsung di Masjid Jami`, namun kata usta watif suasananya tidak seperti beberapa tahun silam. Kini memang masih ada namun jumlahnya tidak banyak lagi, bahkan antrian panjang para pengunjung yang ingin dibacakan do`a pun tidak terlihat lagi.  Watif hanya berharap agar tradisi tersebut tetap berlangsung agar kelak anak cucu di daerah ini tahu dan mengenal suatu tradisi yang menarik.

Namun demikian, kata ustad yang cukup ramah ini meskipun tradisi tolak bala` perlahan sudah mulai ‘ menghilang “ namun bukan berarti di Masjid yang berdiri pada masa paduka Datu Luwu, Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah tidak ada kegiatan rutin. “ sekarang ini nak, ada kegiatan yang rutin dilakukan  diantaranya selepas shalat ashar ada pengajian semacam kultum singkat, dan pada sabtu malam ada ceramah dari tokoh agama, selain itu malam jumat kita hidupkan zikir bersama jamaah dan masyarakat ( hrst_ diskominfo )