Masamba- Salah satu makna yang tertuang dalam momentum peringatan hari Jadi Luwu adalah untuk mengenang dan mengangkat harkat martabat adat dan budaya Tana Luwu. Hal itu diungkapkan oleh Bupati Luwu Utara, Hj.Indah Putri saat menyampaikan sambutan pada puncak peringatan hari jadi Luwu yang dipusatkan di Masamba, rabu(24/1/2018). “ HPRL tidak hanya untuk bernostalgia dengan masa lalu tapi sebagai bentuk komitmen wija to luwu untuk meneruskan perjuangan dan cita cita luhur pendahulu termasuk untuk mengenang jasa perjuangan perjuan luwu sekaligus memperlihatkan kebersaran kerajaan luwu.  Indah juga menambahkan bahwa simbol tana luwu yang selalu ditandai dengan badik dan pohon sagu menujukkan bahwa jiwa setiap orang luwu terdapat jiwa ksatria yang senantiasa menjungjung tinggi harkat dan martabat diri, sementara pohon sagu yang tumbuh dalam kondisi iklim ekstrim dan tumbuh berumpun menujukkan bahwa orang Luwu mampu hidup mandiri dan memiliki ikatan emosional dengan rasa kebersamaan yang sangat tinggi.

Hal senada diutarakan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, H.Syahrul Yasin Limpo yang mengatakan bahwa di Luwu pertama kali syiar islam dijejakkan di Kawasan Timur Indonesia, yang berlandaskan pada ajaran kebenaran sehingga nilai-nilai dan budaya kebenaran Tana Luwu harus senantiasa dikembangkan. “ Siapa pun yang menjaga dan selalu memelihara filosofi kebenaran maka  ia adalah orang Luwu, orang luwu bukan saja karena bapak ibunya orang luwu tapi yang menjaga adat, budaya kebenaran dan kepedulian terhadap luwu adalah orang luwu, biar bapak ibunya orang luwu tapi kerjanya merusak luwu maka dia bukan lagi orang luwu “ ucap SYL yang disambut riuh tepuk tangan.

SYL melanjutkan bahwa mapping sejarah tana Luwu hendaknya dimaknai secara mendalam agar bekas perjuangan pejuang dahulu dapat  diwariskan kepada anak-anak generasi bangsa. Bagi SYL kedatuan luwu adalah merupakan kerajaan yang menginspirasi lahirnya sejumlah kerajaan Bone, Gowa, Soppeng dan bahkan sejumlah kesultanan di negeri Jiran, Malaysia (red-Diskominfo )