Palopo- Bagi anda para pelancong, Palopo merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang dapat menjadi pilihan untuk menghabiskan masa liburan akhir tahun. Betapa tidak dengan berkunjungan ke Kota Palopo, anda dapat menikmati sejumlah obyek wisata dalam waktu singkat. Hal ini karena sejumlah obyek wisata sejarah dan religi berada di pusat kota tepatnya di titik Kilometer 0. Beberapa obyek wisata berada dalam radius yang dikenal sebagai kawasan Lalebatta tersebut diantaranya Masjid Jamid` Tua Palopo, Istana datu Luwu dan gereja PNIEL.

Masjid yang dibangun tahun 1604 M tersebut berada sekitar 150 meter dari titik Km.0. Bangunan masjid yang dirancang oleh Pong Mante tersebut memiliki keunikan, sebab terbuat dari pahatan batu alam dengan ketebalan dinding mencapai 1 meter. Masjid Jami` tua Palopo selain menjadi masjid tertua di Sulawesi Selatan, sekaligus menjadi asal muasal penamaan Kota Palopo ratusan tahun lalu saat pemancangan pilar utama bangunan tersebut yang terbuat dari pohon cingaduri, yang diameter pohon tersebut melebihi satu meter. Oleh pemerintah Kota Palopo, Masjid Jami` tua kini diabadikan sebagai simbol utama pada logo Kota Palopo. Hampir tiap hari masjid berukuran 20 meter persegi tersebut ramai dijejali jamaah dan pengunjung dari dalam dan luar Kota Palopo.   

Sekitar 20 meter sebelah timur Masjid Jami` tua Palopo, terdapat kompleks istana Datu ( raja ) Luwu. Istana yang menjadi pusat pemerintahan kedatuan Luwu tersebut terdiri dari 2 bangunan utama yakni Langkanae dan istana Datu yang sempat dipugar oleh penjajah Belanda.  Di halaman istana yang tepat berada dijantung kota tersebut juga terdapat patung badik yang menjadi icon bagi Kota Palopo.  Presiden RI. Pertama, Ir.Soekarno bahkan telah pernah berkunjung ke istana Datu pada tahun 1956,  disusul oleh Presiden R.I Ke 5 Megawati Soekarno Putri pada tahun 2009 dan Preiden R.I ke 6 DR.Soesilo Bambang Yudhoyono dan 2014.

Dari istana datu Luwu, pelancong dapat bergeser sedikit ke arah barat sekitar 200 meter dari Km.0 terdapat bangunan gereja PNIEL. Bangunan gereja yang berdiri kokoh tepat disamping lapangan Gaspa yang sejak dulu menjadi alun-alun kota penghasil durian ini, didirikan tahun 1920. Kini bangunan peninggalan belanda selain menjadi tempat peribadatan umat kristiani, juga dimasukkan sebagai bangunan yang dilindungi UU. Bangunan tua lainnya di sekitar kawasan itu, yakni eks.Rumah Sakit Umum yang kini difungsikan sementara waktu sebagai Kantor Wali Kota Palopo. Bangunan tersebut merupakan peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1928.   

Dari titik Km.0 itu pula, pengunjung hanya butuh waktu sekitar 5 menit ke arah timur dapat menikmati indahnya pemandangan laut di kawasan pelabuhan Tanjung Ringgit yang berada di perairan teluk Bone. Jika cuaca bersahabat dan anda beruntung, maka spot tanjung ringgit inilah yang paling menarik untuk menikmati pemandangan matahari terbit sekaligus menikmati keriuhan ratusan nelayan, penjual serta pembeli yang tiap hari menjejali kawasan itu.

Soal penginapan, dalam radius 200 meter di Km. 0 terdapat 3 hotel yang sangat representatif dengan tarif terjangkau, diantaranya Hotel Platinum yang berada tepat disamping masjid Jami` tua yang bahkan sering menjadi langganan para pejabat daerah dan nasional termasuk para artis ketika berkunjung ke kota Palopo. 30 meter sebelah selatan istana Datu Luwu juga terdapat Primer Hotel ( dulu : Sawerigading Hotel ), tak jauh dari hotel Primer, sekitar 70 meter juga terdapat Liras Hotel, dan 200 meter sebelah selatan hotel Primer juga terdapat Buana Hotel. Sedangkan masalah perut, di kawasan Km.0 ini anda tinggal memilih sejumlah rumah makan sampai warung “pinggiran “ yang meyediakan ragam menu dengan harga terjangkau, atau bahkan anda dapat bersantai di kawasan Pedestrian yang meliputi kawasan istana, masjid jami` dan gereja PNIEL . Jadi, kapan anda ke Palopo?( red_diskominfo )